Ditulis Oleh : BuRika FarandHaqq
Ada pertemuan, maka pasti ada perpisahan. Itulah sunnatullah dalam setiap yang datang di hidup ini. Termasuk bulan yang paling kita rindukan setiap tahun: Ramadhan.
Hari-hari awal Ramadhan biasanya dipenuhi semangat yang menggebu. Kita menyambutnya dengan harapan besar: ingin memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, dan mendekatkan hati kepada Allah. Lalu hari demi hari berlalu. Tanpa terasa, kini kita sampai pada sepuluh hari terakhir—fase yang tidak hanya penuh keberkahan, tetapi juga sarat dengan rasa haru.
Sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah masa pelepasan.
Saat tubuh mulai terbiasa dengan ritme puasa. Lapar dan haus tidak lagi terasa berat seperti di awal. Bangun sahur sudah terasa lebih ringan. Shalat malam yang dulu terasa panjang kini terasa lebih dekat dengan hati
Di saat seperti ini, justru kita diingatkan bahwa Ramadhan tidak lama lagi akan pergi.
Ketika badan sudah menikmati kondisi, saat hati mulai terjaga emosinya, saat ruh mulai merasakan manisnya ibadah—di saat itulah kita dihadapkan pada kenyataan bahwa bulan ini akan segera meninggalkan kita.
Ramadhan memang seperti tamu agung. Ia datang membawa rahmat, ampunan, dan kesempatan. Lalu ia pergi, meninggalkan bekas di hati orang-orang yang benar-benar memanfaatkannya.
Pada sepuluh hari terakhir inilah Rasulullah ﷺ justru meningkatkan ibadahnya. Dalam hadits disebutkan bahwa beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya. Seakan-akan beliau ingin mengajarkan kepada umatnya bahwa di akhir Ramadhan terdapat kesempatan yang sangat besar yang tidak boleh disia-siakan.
Di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan: Lailatul Qadar.
Satu malam yang nilainya lebih baik daripada delapan puluh tiga tahun ibadah. Sebuah karunia yang tidak dimiliki oleh umat-umat sebelumnya. Allah memberikannya sebagai bentuk kasih sayang kepada umat Nabi Muhammad ﷺ.
Karena itu, sepuluh hari terakhir bukanlah masa untuk melemah, tetapi masa untuk menguatkan langkah.
Jika di awal Ramadhan kita masih tertatih dalam ibadah, maka di akhir Ramadhan seharusnya kita berlari. Jika sebelumnya kita masih sibuk dengan urusan dunia, maka sekarang waktunya kita lebih banyak menenangkan hati di hadapan Allah.
Ramadhan juga menjadi bulan yang penuh keberkahan karena manusia berlomba-lomba dalam kebaikan.
Masjid menjadi lebih ramai. Orang-orang lebih mudah bersedekah. Al-Qur’an lebih sering dibaca. Doa-doa lebih banyak dipanjatkan. Bahkan orang yang biasanya jauh dari ibadah pun sering kali ikut tersentuh oleh suasana Ramadhan.
Inilah indahnya Ramadhan: kebaikan menjadi budaya bersama.
Namun sepuluh hari terakhir juga membawa satu perasaan yang sulit dijelaskan: kerinduan yang bahkan belum sempat selesai, tetapi sudah harus bersiap untuk berpisah.
Ramadhan adalah kerinduan.
Kerinduan akan ketenangan yang kita rasakan saat beribadah. Kerinduan akan suasana malam yang dipenuhi doa. Kerinduan akan hati yang terasa lebih lembut dari biasanya.
Kadang kita baru menyadari betapa berharganya sesuatu ketika ia hampir pergi.
Begitu pula dengan Ramadhan. Ketika hari-harinya tinggal sedikit, barulah hati bertanya: apakah kita sudah memanfaatkannya dengan baik? Apakah kita sudah cukup memohon ampun kepada Allah? Apakah kita sudah cukup memperbaiki diri?
Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk membuat kita menyesal, tetapi untuk menyadarkan kita bahwa kesempatan masih ada.
Selama Ramadhan belum benar-benar pergi, pintu kebaikan masih terbuka.
Masih ada malam untuk bersujud.
Masih ada waktu untuk beristighfar.
Masih ada kesempatan untuk memohon kepada Allah agar mengampuni dosa-dosa kita.
Mungkin inilah rahasia mengapa sepuluh hari terakhir terasa berbeda. Ada kesungguhan yang lebih dalam. Ada doa yang lebih panjang. Ada air mata yang lebih mudah jatuh.
Karena kita tahu: tidak semua orang diberi kesempatan untuk bertemu Ramadhan tahun depan.
Maka sepuluh hari terakhir ini adalah saat kita melepas Ramadhan dengan cara yang paling indah: dengan memperbanyak ibadah, memperbaiki hati, dan memperkuat hubungan kita dengan Allah.
Agar ketika Ramadhan benar-benar pergi, ia meninggalkan sesuatu dalam diri kita—bukan sekadar kenangan, tetapi perubahan.
Semoga kita termasuk orang-orang yang ketika Ramadhan pergi, hati kita tetap hidup dengan kebiasaan baik yang telah kita bangun di dalamnya.
Dan semoga Allah mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan di tahun-tahun yang akan datang, dalam keadaan iman yang lebih kuat dan hati yang lebih bersih.
Karena setiap Ramadhan adalah pertemuan.
Dan setiap pertemuan selalu membawa pelajaran tentang cara berpisah dengan lebih baik.

0 Komentar