Mengabadikan Tapak Ramadhan: Menjaga Konsistensi Iman dalam Kajian Rutin di Masjid Pasar Banjaran Bersama Ustdz Hj Ella Kamilawati, S.Pd.I, M.Pd

Hj. Ella Kamilawatie

Pasca berlalunya bulan suci Ramadhan, banyak di antara kita yang merasakan perubahan—baik dalam pola ibadah, pola pikir, maupun cara memandang kehidupan. Namun pertanyaannya sederhana tapi cukup “menampar”: apakah perubahan itu akan bertahan, atau justru perlahan memudar seiring rutinitas yang kembali seperti biasa?

Pertanyaan inilah yang menjadi benang merah dalam kajian rutin yang dilaksanakan pada Ahad, 5 April 2026 M, bertepatan dengan 16 Syawal 1447 H di Masjid Al-Madinah Pasar Sehat Banjaran. Kajian tersebut menghadirkan Ustadzah Hj. Ella Kamilawatie, yang saat ini orang mengenal dengan panggilan "BUNJI" sosok pendidik yang memiliki rekam jejak panjang dalam dunia dakwah dan pendidikan, serta pernah mengajar mata pelajaran muthola’ah bagi angkatan 2001.

Mengangkat tema “Mengabadikan Tapak Ramadhan”, kajian ini terasa sangat kontekstual bagi generasi milenial yang hidup di tengah ritme cepat, distraksi digital, dan tekanan kehidupan modern. Ramadhan diibaratkan sebagai “training camp” spiritual—intens, terarah, dan penuh pembiasaan baik. Namun setelah itu, tantangan sesungguhnya justru dimulai: menjaga hasil latihan tersebut tetap hidup.

Sejak pagi, suasana masjid dipenuhi jamaah yang datang dengan semangat yang cukup terasa. Tidak hanya masyarakat umum, hadir pula dua alumni angkatan 2001, yaitu Supartini dan Imas Idah Syaidah. Kehadiran mereka bukan sekadar nostalgia bertemu guru lama, tetapi juga bentuk komitmen untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Dalam penyampaiannya, Ustadzah Ella tidak hanya memberikan motivasi, tetapi juga menyusun langkah konkret yang bisa dilakukan untuk menjaga “tapak” Ramadhan. Beliau merinci tujuh kebiasaan utama yang perlu terus dibangun dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, membiasakan shaum sunnah. Beliau mengutip hadits tentang puasa Nabi Daud, yaitu berpuasa sehari dan berbuka sehari. Ini menunjukkan bahwa ibadah tidak selalu harus ekstrem, tetapi yang terpenting adalah konsistensi. Bagi generasi milenial yang cenderung fleksibel dan dinamis, pola ini relevan: tidak harus langsung sempurna, tapi bertahap dan berkelanjutan.

Kedua, membiasakan sholat sunnah. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dijelaskan bahwa amalan pertama yang dihisab adalah shalat. Jika terdapat kekurangan pada shalat wajib, maka shalat sunnah akan menjadi penyempurna. Ini seperti “backup system” dalam kehidupan spiritual. Artinya, sholat sunnah bukan sekadar tambahan, tetapi investasi penting untuk keselamatan akhirat.

Ketiga, membiasakan memberi dan berbagi. Dalam dunia yang semakin kompetitif, kadang kita terlalu fokus pada pencapaian pribadi. Padahal, keberkahan hidup justru sering datang dari seberapa besar kita mampu berbagi. Ustadzah Ella mengingatkan bahwa memberi tidak harus menunggu kaya. Bahkan dalam kondisi sempit sekalipun, tetap ada ruang untuk berbagi sesuai kemampuan.

Keempat, membiasakan bersahabat dengan Al-Qur’an. Beliau mengutip permisalan yang sangat kuat: orang yang membaca Al-Qur’an diibaratkan seperti buah yang harum dan enak rasanya. Ini bukan hanya soal membaca, tetapi tentang membangun kedekatan. Di era digital saat ini, di mana waktu banyak tersita oleh layar, menjadikan Al-Qur’an sebagai “teman harian” adalah bentuk kesadaran yang perlu diperjuangkan.

Kelima, membiasakan mencari ilmu. Dalam salah satu kutipan yang disampaikan, mencari ilmu disebut sebagai ibadah, bahkan setara dengan jihad dalam konteks tertentu. Ini menjadi pengingat bahwa belajar tidak berhenti setelah lulus sekolah atau kuliah. Justru dalam fase kehidupan dewasa, kebutuhan akan ilmu semakin besar—baik untuk menghadapi tantangan hidup maupun untuk menjaga arah spiritual tetap lurus.

Keenam, membiasakan berbuat baik. Ustadzah Ella menyampaikan bahwa setiap kebaikan yang dilakukan oleh seorang mukmin akan disimpan oleh Allah untuk akhirat, sekaligus tetap diberikan balasan di dunia. Ini semacam “double benefit” yang tidak selalu kita sadari. Dalam kehidupan sehari-hari, kebaikan bisa hadir dalam bentuk sederhana: membantu orang lain, berkata jujur, atau sekadar menjaga sikap.

Ketujuh, tidak meremehkan amalan sekecil apapun. Ini menjadi poin penutup yang sangat kuat. Dalam hadits disebutkan bahwa bahkan senyuman kepada saudara adalah bagian dari kebaikan. Bagi generasi milenial yang seringkali fokus pada hal besar, pesan ini penting: jangan menunggu momen besar untuk berbuat baik. Justru konsistensi dalam hal kecil yang akan membentuk karakter.

Sepanjang kajian, suasana terasa hangat namun tetap reflektif. Gaya penyampaian Ustadzah Ella yang lugas membuat materi mudah dipahami, tanpa kehilangan kedalaman makna. Jamaah tidak hanya mendengar, tetapi juga diajak berpikir dan mengevaluasi diri.

Supartini imas idah

Bagi Supartini dan Imas Idah Syaidah, momen ini menjadi lebih dari sekadar kajian. Ada dimensi emosional yang terlibat—kembali duduk sebagai murid, mendengarkan guru yang pernah membimbing mereka di masa lalu. Ini menunjukkan bahwa hubungan antara guru dan murid tidak pernah benar-benar selesai; ia hanya berubah bentuk menjadi hubungan yang lebih matang dan spiritual.

Menjelang akhir kajian, jamaah diajak untuk merenung. Tidak ada tekanan, tidak ada tuntutan instan. Hanya sebuah ajakan sederhana: mempertahankan kebaikan, sekecil apapun itu. Karena pada akhirnya, perjalanan spiritual bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang paling konsisten.

Kajian ditutup dengan doa yang khusyuk, menjadi penegasan bahwa semua usaha tetap membutuhkan pertolongan Allah. serta membawa pulang bukan hanya catatan, tetapi juga semangat baru.

Bagi generasi milenial, kajian ini seperti “reset reminder”. Di tengah kesibukan, target hidup, dan tekanan sosial, mudah sekali untuk kehilangan arah. Namun melalui momen seperti ini, kita diingatkan kembali bahwa hidup bukan hanya tentang pencapaian dunia, tetapi juga tentang kualitas hubungan dengan Allah.

“Mengabadikan Tapak Ramadhan” pada akhirnya bukan sekadar tema, tetapi sebuah mindset. Bahwa Ramadhan bukan kenangan tahunan, melainkan fondasi yang harus terus dibangun. Dan mungkin, di situlah letak tantangan sekaligus keindahannya: menjadi pribadi yang terus bertumbuh, tanpa harus kehilangan arah.

Posting Komentar

0 Komentar