Tidak semua mimpi datang dengan suara yang keras.
Ada yang muncul pelan-pelan, hampir seperti bisikan. Tidak memaksa, tidak juga hilang. Ia hanya ada… dan terus menunggu.
Begitulah yang dirasakan Lisna sejak dulu.
Ia tidak ingat kapan pertama kali perasaan itu muncul. Mungkin saat melihat gambar pegunungan di buku pelajaran. Mungkin juga saat mendengar cerita orang lain tentang pendakian. Atau mungkin… sejak pertama kali ia melihat siluet gunung dari kejauhan, berdiri diam tapi terasa memanggil.
Yang jelas, setiap kali kata “gunung” disebut, ada sesuatu di dalam dirinya yang bergerak.
Bukan rasa takut.
Bukan juga sekadar penasaran.
Lebih seperti… rindu terhadap sesuatu yang belum pernah ia datangi.
Saat teman-temannya membicarakan hal-hal lain—film, makanan, atau rencana jalan-jalan ke kota—pikiran Lisna kadang justru melayang ke tempat yang jauh.
Ke hutan.
Ke jalur setapak.
Ke puncak yang tertutup kabut.
Ia membayangkan dirinya berjalan di sana. Menghirup udara yang berbeda. Mendengar suara alam yang tidak bisa ia temukan di mana pun.
Tapi semua itu hanya ada di dalam kepala.
Karena di dunia nyata, langkahnya belum diizinkan.
Suatu sore, saat keberanian itu akhirnya ia kumpulkan, Lisna mencoba menyampaikan keinginannya.
“Pak… Lisna pengen ikut naik gunung,” katanya pelan.
Ayahnya menoleh.
Tidak marah. Tidak juga langsung menjawab.
Namun dari tatapannya, Lisna sudah bisa membaca sesuatu.
Khawatir.
“Gunung itu bukan tempat main-main,” jawab ayahnya setelah beberapa detik diam.
Nada suaranya tidak tinggi, tapi tegas.
“Banyak risiko. Apalagi kamu perempuan.”
Kalimat itu sederhana. Tapi cukup untuk membuat Lisna mengerti.
Ia tidak membantah.
Tidak mencoba berdebat.
Ia hanya mengangguk kecil.
“Ya, Pak.”
Dan sejak saat itu, ia tidak pernah membahasnya lagi.
Namun bukan berarti keinginannya hilang.
Ia hanya… menyimpannya lebih dalam.
Seperti buku yang ditutup rapat, tapi tidak pernah dibuang.
Hari-hari kembali berjalan seperti biasa.
Sekolah. Tugas. Teman-teman. Tawa. Semua tetap sama.
Lisna tetap menjadi dirinya yang ceria. Yang aktif. Yang selalu terlihat baik-baik saja.
Tidak ada yang tahu bahwa ada satu bagian kecil dalam dirinya yang sedang menunggu waktu.
Waktu yang tepat.
Waktu yang entah kapan datangnya.
Lalu waktu pun berjalan.
Tanpa terasa, masa sekolah itu selesai.
Babak baru dimulai.
Hidup tidak lagi sesederhana dulu.
Lisna tumbuh dewasa.
Ia menikah. Memiliki keluarga. Menjadi seorang ibu.
Dan seperti kebanyakan perempuan lainnya, ia menjalani peran itu dengan sepenuh hati.
Hari-harinya diisi dengan hal-hal yang nyata.
Mengurus rumah.
Menjaga anak.
Memastikan semuanya berjalan baik.
Tidak ada ruang untuk mimpi yang dulu sempat ia simpan.
Atau setidaknya… ia berpikir begitu.
Karena sebenarnya, mimpi itu tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya diam.
Menunggu.
Kadang muncul sekilas, saat ia melihat foto pegunungan di media sosial. Atau saat seseorang bercerita tentang pengalaman mendaki.
Ada rasa yang muncul.
Kecil. Singkat. Tapi nyata.
Namun selalu ia tutup lagi.
“Nanti aja,” katanya dalam hati.
“Nggak sekarang.”
Dan “nanti” itu… terus mundur.
Sampai suatu hari, tanpa benar-benar ia rencanakan, sesuatu berubah.
Anak-anaknya mulai tumbuh besar.
Mereka tidak lagi membutuhkan perhatian penuh setiap waktu. Mereka mulai punya dunia sendiri.
Rumah yang dulu terasa penuh aktivitas, kini mulai terasa lebih tenang.
Dan di situlah Lisna mulai menemukan sesuatu yang sudah lama hilang—
Waktu untuk dirinya sendiri.
Awalnya terasa aneh.
Seperti ada ruang kosong yang tidak biasa.
Tapi perlahan, ia mulai terbiasa.
Dan di dalam ruang kosong itu… sesuatu muncul lagi.
Mimpi lama itu.
Kali ini, tidak hanya sekadar bisikan.
Lebih jelas.
Lebih berani.
Seolah berkata, “Sekarang waktunya.”
Lisna tidak langsung mengambil keputusan.
Ia tidak ingin terburu-buru.
Namun ia juga tidak ingin kembali menunda.
Ia mulai mencari tahu.
Tentang jalur pendakian.
Tentang perlengkapan.
Tentang apa saja yang perlu dipersiapkan.
Semakin ia mencari, semakin ia merasa dekat dengan sesuatu yang dulu hanya bisa ia bayangkan.
Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri—
“Kenapa nggak?”
Tidak ada lagi larangan seperti dulu.
Tidak ada lagi alasan kuat untuk menunda.
Yang ada hanya satu hal—
Keberanian.
Dan keberanian itu… ternyata tidak datang dalam bentuk besar.
Ia datang dari keputusan kecil.
Keputusan untuk mencoba.
Pendakian pertamanya akhirnya terjadi.
Hari itu, ia berdiri di titik awal jalur dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
Campur aduk.
Deg-degan.
Senang.
Takut.
Semua jadi satu.
Ia melihat ke depan.
Jalur tanah yang membentang. Pepohonan yang tinggi. Udara yang terasa berbeda.
Ini nyata.
Bukan lagi bayangan.
Langkah pertamanya terasa ringan… tapi juga penuh makna.
Satu langkah.
Dua langkah.
Dan tanpa ia sadari, ia sudah berjalan lebih jauh dari yang pernah ia bayangkan.
Tidak ada yang spektakuler di awal.
Tidak ada momen dramatis.
Hanya langkah-langkah kecil yang terus berlanjut.
Namun justru di situlah letak keindahannya.
Ia tidak sedang mengejar sesuatu.
Ia hanya… menjalani.
Di tengah perjalanan, ia sempat berhenti.
Menarik napas dalam-dalam.
Udara yang masuk terasa berbeda.
Lebih segar.
Lebih jujur.
Ia tersenyum.
Bukan karena berhasil mencapai puncak.
Tapi karena akhirnya… ia sampai di titik ini.
Titik di mana mimpi lama tidak lagi hanya menjadi angan.
“Happy aja,” katanya suatu waktu saat menceritakan pengalaman itu.
Sederhana.
Tapi cukup untuk menjelaskan semuanya.
Karena kebahagiaan itu tidak selalu harus besar.
Kadang, ia datang dari sesuatu yang sudah lama kita tunggu.
Dan ketika akhirnya kita berani mengambil langkah itu—
Kita sadar.
Bahwa semua penantian itu… tidak sia-sia.
Langit sore mulai berubah ketika ia turun dari gunung hari itu.
Namun ada satu hal yang berbeda.
Lisna tidak lagi sama.
Ia tidak hanya pulang membawa lelah.
Ia pulang membawa sesuatu yang lebih penting—
Dirinya sendiri.
Versi yang sempat tertunda.
Dan kali ini… ia tidak ingin kehilangan lagi.

0 Komentar