"Aku merasa hatiku seperti terbelah. Di satu sisi aku berdo'a, di sisi lain aku masih jatuh pada dosa yang sama. Aku datang ke sajadah membawa nama Allah, namun juga membawa beban kesalahan yang belum kutinggalkan. Apakah do'a dari hati seperti ini masih layak di dengar?"
Hati yang terbelah bukan tanda munafik, ia justru tanda bahwa iman masih berjuang. Yang berbahaya bukan hati yang terluka, tetapi hati yang tidak lagi merasa bersalah.
"Tapi mengapa shalatku terasa berat? Do'a ku hampa, dan khusyuk seolah enggan singgah?"
Karena hati tidak bisa berdiri di dua arah dalam waktu yang sama. Ia lelah dipaksa mencintai Allah sambil memeluk maksiat. Hati yang kamu gunakan untuk maksiat itu adalah hati yang sama—yang kamu gunakan untuk shalat, bagaimana akan khusyuk?
"... Lalu, apakah aku berarti aku harus menjadi suci, baru boleh menghadap Allah?"
Tidak. Allah tidak menunggu kesucianmu, Dia menunggu kejujuranmu. Namun ada perbedaan besar antara orang yang jatuh menangis, dan orang yang jatuh namun menganggap dosanya biasa.
"Lalu, mengapa Allah tidak langsung mengambil rasa cinta pada dosa itu dari hatiku?"
Karena jika semua dipaksa, tak ada lagi nilai dalam perjuangan. Allah ingin hatimu memilih-Nya, bukan sekedar tunduk tanpa kesadaran. Rasa bersalah itu bukan hukuman, ia adalah undangan untuk kembali.
"Jadi, kegelisahan ini... bukan tanda Allah membenciku?"
Justru sebaliknya. Hati yang masih gelisah adalah hati yang masih hidup. Jika Allah meninggalkanmu, kamu akan berdosa tanpa rasa takut dan berdo'a tanpa rasa perlu.
"Dan... apa yang harus kulakukan dengan hati yang terbelah ini?"
Jangan tunggu hatimu sempurna, kawan. Mulailah dengan satu kejujuran. Mengakui kelemahanmu dihadapan Allah, dan berhenti membela dosa yang kamu tau itu salah. Ketika maksiat mulai dilepaskan, bukan hanya perbuatan yang berubah, tetapi hati perlahan menyatu kembali.
"Wah... sekarang aku mengerti, bukan do'aku yang ditolak, tetapi hatiku yang belum sepenuhnya memilih-Nya."
Dan memilih Allah, selalu dimulai dari keberanian untuk meninggalkan satu dosa yang selama ini kamu anggap kecil.
—Ar¡n.
Jika ada pertanyaan Silahkan tulis di kolom Komentar
atau

0 Komentar