"Mengapa kita harus menghadapi kehilangan yang tidak pernah kita pilih? Rasanya hidup mengambil sesuatu secara tiba-tiba, lalu kita dipaksa menerima seolah itu hal biasa."
Kehilangan memang tidak pernah menjadi pilihan manusia. Namun justru karena ia tidak kita pilih, disitulah letak pembelajaran terbesar. Kehilangan menyingkapkan bahwa kita tidak memiliki apapun secara mutlak. Oleh karena itu, ingatlah jangan mencintai sesuatu yang sementara secara berlebihan. Karena apapun yang tidak kekal, tidak layak menjadi sandaran utama hati.
"Tapi jika semuanya hanya titipan, mengapa rasa sakitnya begitu nyata? Seolah kita ditinggalkan, padahal kita sudah berusaha menjaga."
Karena manusia diberi kemampuan untuk mencintai, dan cinta selalu menghadirkan resiko kehilangan. Allah tidak meniadakan rasa sakitnya, tetapi Dia memastikan bahwa kesakitan itu tidak sia-sia. Kehilangan mengajarkan sesuatu yang tidak dapat diajarkan oleh kelimpahan.
"Namun, pada saat kehilangan itu datang... yang justru terasa hampa, seolah tidak ada pegangan, mengapa?"
Hampa itu muncul bukan karena Allah menjauh, tetapi karena kita terlalu terikat pada sesuatu yang sebenarnya tidak pernah permanen. Ketika sesuatu diambil, ruang di dalam hati menjadi kosong dan ruang itu justru tempat Allah masuk dengan cara yang personal.
"Apakah itu berarti kehilangan adalah sarana untuk mendekat kepada-Nya?"
Bukan semata-mata sarana, melainkan undangan. Kehilangan menghilangkan sandaran-sandaran semu. Sehingga kita kembali bersandar pada satu-satunya yang tidak pernah pergi. Allah tidak selalu mencegah kehilangan, tapi Ia selalu hadir dibaliknya.
"Tetapi mengapa Allah tidak menyelematkan apa yang kita sayangi? Mengapa harus mengambilnya?"
Karena ada hal-hal yang hanya dapat dipahami ketika kita kehilangan— kerendahan hati, kedewasaan, keikhlasan, dan kesadaran bahwa hidup ini tidak berada di bawah kendali kita. Kadang kita baru mengenal karakter asli diri kita, ketika sesuatu diambil. Dan sering kali, kita baru menemukan Allah secara sungguh-sungguh ketika semua yang lain runtuh.
"Jadi, kehilangan tidak selalu tanda bahwa kita ditinggalkan, tetapi tanda bahwa kita sedang diarahkan?"
Benar, kehilangan bukan bukti abainya Allah, tetapi bukti bahwa Allah sedang memindahkan kita pada hal yang lebih benar, lebih kuat, atau lebih bersih. Dan keberadaan-Nya tidak bergantung pada apa yang kita miliki. Dia tetap ada bahkan ketika semua orang menghilang.
"Mungkin selama ini aku fokus pada apa yang hilang, hingga lupa melihat siapa yang masih tinggal, ya?"
Dan Allah selalu tinggal bersama kita. Kita yang sering berpaling, kita yang sering lupa. Tapi Dia tidak pernah meninggalkan, bahkan di saat kehilangan terasa paling gelap, dan justru Dia yang paling dekat dengan kita.
—Arin.

0 Komentar