Ditulis Oleh : BuRika FarandHaqq
Tidak ada jiwa yang Allah ciptakan dalam keadaan sia-sia.
Tidak ada manusia yang hadir tanpa bekal.
Allah ﷻ berfirman dalam Al-Qur'an:
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
(QS. At-Tin: 4)
“Ahsani taqwim” bukan sekadar bentuk fisik yang sempurna, tetapi juga potensi akal, hati, dan kemampuan untuk bertumbuh. Setiap manusia membawa kemungkinan untuk berkembang dan memberi manfaat.
Allah juga menegaskan:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Jika Allah memberi beban sesuai kesanggupan, berarti di dalam diri kita sudah ada kapasitas itu. Sudah ada daya untuk bertahan, belajar, dan bangkit.
Namun sering kali kita lupa.
Kita sibuk melihat cahaya orang lain hingga tak sadar bahwa dalam diri kita pun ada cahaya. Kita kagum pada yang pandai berbicara di depan umum, lalu merasa kecil karena hanya berkutat di rumah. Kita memuji yang berprestasi di luar sana, tapi meremehkan diri karena merasa hidup kita biasa saja.
Padahal Allah membagikan potensi dengan cara yang tidak sama, tetapi adil.
Lihatlah para sahabat Nabi ﷺ.
Ada Abu Bakar Ash-Shiddiq yang lembut hatinya, dermawan, dan menenangkan.
Ada Umar bin Khattab yang tegas dan kuat dalam keadilan.
Ada Utsman bin Affan yang pemalu dan sangat pemurah.
Ada Ali bin Abi Thalib yang cerdas dan dalam ilmunya.
Karakter mereka berbeda. Kelebihan mereka tidak sama. Tapi semuanya mulia karena mengoptimalkan potensi yang Allah titipkan.
Bahkan dalam satu peristiwa, ketika Bilal bin Rabah yang berkulit hitam dan pernah menjadi budak dipilih menjadi muadzin, itu bukan karena status sosialnya. Itu karena suaranya, keimanannya, dan keteguhannya. Potensinya dimuliakan oleh Islam.
Dari sini kita belajar: kemuliaan bukan karena seragamnya kelebihan, tetapi karena maksimalnya pengabdian.
Tidak semua orang harus menjadi penceramah.
Tidak semua orang harus menjadi pemimpin.
Tidak semua orang harus tampil di panggung.
Ada ibu yang luar biasa dalam kesabaran mendidik anak.
Ada istri yang mungkin tidak banyak bicara, tetapi kokoh menopang keluarganya dengan doa dan ketenangan.
Ada seseorang yang mungkin tak terkenal, tetapi kehadirannya selalu membuat orang lain merasa diterima.
Itu potensi. Itu anugerah.
Allah berjanji:
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”
(QS. Ibrahim: 7)
Syukur membuat potensi bertumbuh.
Kufur—dalam bentuk mengeluh, meremehkan diri, atau membandingkan berlebihan—membuatnya layu sebelum berkembang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada keduanya ada kebaikan.”
(HR. Muslim)
Artinya, setiap jiwa tetap punya nilai. Tinggal bagaimana ia menguatkan dan memaksimalkan dirinya.
Maka jangan meremehkan siapa pun.
Dan jangan pernah meremehkan dirimu sendiri.
Kenali potensi itu.
Asah dengan sabar.
Rawat dengan syukur.
Karena saat kita menghargai anugerah Allah dalam diri kita, sejatinya kita sedang menjaga amanah-Nya.

0 Komentar