Bukan “ت”, tapi “ط” — Tentang Fitrah dan Jalan Pulang

Tentang Fitrah dan Jalan Pulang


Ditulis Oleh : BuRika FarandHaqq

Sering kali kita menganggap remeh hal-hal kecil. Termasuk satu huruf.Padahal dalam bahasa Al-Qur’an, satu huruf bisa mengubah arah makna, bahkan arah hati. Kata fitrah tidak ditulis dengan ت (ta), tetapi dengan ط (tha):

فِطْرَة — fiṭrah.

Mungkin tampak sederhana. Namun di balik huruf ط itu, tersimpan makna yang dalam—tentang asal, tentang kesucian, dan tentang jalan pulang seorang hamba kepada Rabb-nya.
Fitrah: Asal yang Pernah Kita Miliki
Kata فطر (fathara) berarti mencipta dari awal, membuka, dan memulai tanpa cacat. Dari sinilah lahir kata fitrah—keadaan asli manusia yang bersih, lurus, dan cenderung kepada kebenaran.

Rasulullah ﷺ bersabda:
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah…”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, setiap kita pernah berada dalam keadaan suci.
Hati yang belum ternoda.
Jiwa yang belum terbebani.

Namun perjalanan hidup—dosa, luka, kesibukan dunia—perlahan menjauhkan kita dari titik awal itu.
Kita berubah.
Kita lelah.
Kita kadang lupa arah pulang.

Ramadhan: Jalan Kembali yang Dihadirkan Allah
Lalu Allah hadirkan Ramadhan.
Bulan di mana lapar bukan sekadar menahan diri,
tapi cara Allah membersihkan jiwa.
Bulan di mana malam dipanjangkan,
agar kita punya waktu kembali.
Bulan di mana doa dilangitkan,
agar hati yang jatuh bisa diangkat kembali.
Dan di ujung perjalanan itu, Allah berikan satu hari:


عِيدُ الْفِطْرِ — Idul Fitri.

Hari berbuka.
Hari kembali.
Kata فطر (fithr) di sini—dengan huruf ط—bukan hanya berarti berbuka dari puasa, tetapi juga kembali kepada keadaan semula: fitrah.

Satu Huruf, Satu Pengingat
Mengapa harus ط, bukan ت?
Karena jika diganti, maknanya berubah.
Bukan lagi tentang kembali, tapi tentang sesuatu yang kehilangan ruhnya.

Dan dari sini kita belajar,
bahwa hal kecil yang kita anggap sepele
bisa membawa kita pada pemahaman yang berbeda.
Seperti hidup.
Sedikit kelalaian, bisa menjauhkan.
Sedikit kesadaran, bisa mengembalikan.

Idul Fitri: Bukan Sekadar Perayaan
Idul Fitri bukan hanya tentang baju baru, makanan, atau tradisi pulang kampung.
Ia adalah momen paling jujur antara kita dan diri sendiri.
Apakah kita benar-benar kembali?
Atau hanya sekadar selesai menjalani Ramadhan?
Apakah hati kita lebih lembut?
Apakah lisan kita lebih terjaga?
Apakah kita lebih dekat dengan Allah dibanding sebelumnya?
Jika tidak, mungkin kita hanya merayakan harinya—
tanpa benar-benar sampai pada maknanya.

Jalan Pulang Itu Masih Terbuka
Huruf ط dalam fitrah bukan sekadar ejaan.
Ia seperti penunjuk arah yang lembut—
bahwa sejauh apa pun kita pergi,
kita selalu punya jalan untuk kembali.
Kembali tidak harus sempurna.
Tidak harus langsung bersih sepenuhnya.
Cukup dengan satu langkah: sadar.
Satu langkah: ingin pulang.
Karena Allah tidak pernah menutup pintu itu.
Dan mungkin, Idul Fitri bukan tentang siapa yang paling banyak amalnya,
tetapi siapa yang paling jujur dalam kembalinya.


فِطْرَة — fitrah Dengan huruf ط.

Seperti pesan yang tak pernah berubah:
Kita ini diciptakan untuk kembali.

“Ya Allah, kembalikanlah kami kepada fitrah kami dengan cara yang indah, bersihkan hati kami dari dosa, dan jadikan kami termasuk orang-orang yang benar-benar kembali kepada-Mu dengan penuh kejujuran.”

Taqabbalallahu minna wa minkum.

Posting Komentar

0 Komentar