Kisah Ibu Rika dan Ust Yayan Haryana, S.Pd: Ketika Almamater Menjadi Awal Sebuah Takdir

 

Rika dan Ust Yayan Haryana, S.Pd

Setiap almamater selalu menyimpan banyak cerita tentang perjalanan para alumninya. Ada yang membawa kenangan, ada pula yang menghadirkan kisah inspiratif tentang kehidupan. Salah satu kisah yang menarik datang dari Ibu Rika, alumni angkatan 2001, yang tak hanya membawa kenangan masa sekolah, tetapi juga menemukan takdir hidupnya dari tempat yang sama.

Takdir itu mempertemukannya dengan seseorang yang kini menjadi pasangan hidupnya, Ust Yayan Haryana, S.Pd, seorang kakak kelas yang terpaut dua angkatan di almamater yang sama.

Kisah mereka membuktikan bahwa terkadang perjalanan hidup yang panjang bisa bermula dari pertemuan sederhana di masa sekolah.


Kenangan Masa Putih Abu-Abu yang Tak Terlupakan

Bagi Ibu Rika, masa putih abu-abu mungkin tidak berlangsung lama, tetapi meninggalkan kesan yang sangat mendalam. Di masa itu, sekolah bukan hanya tempat belajar pelajaran akademik, tetapi juga ruang untuk memahami kehidupan.

Ia mengenang bagaimana suasana belajar dan pertemanan terasa begitu hangat. Sebagai pribadi yang supel, Ibu Rika tidak membatasi diri dalam bergaul. Ia bisa berteman dengan siapa saja, sehingga masa sekolah terasa sangat menyenangkan.

“Kami sering mengerjakan PR bersama, belajar bersama, dan saling membantu satu sama lain,” kenangnya.

Angkatan 2001 juga memiliki ciri khas tersendiri. Jika biasanya perbandingan siswa jurusan IPA dan IPS tidak seimbang, angkatan mereka justru hampir sama banyaknya. Hal ini membuat suasana belajar terasa unik dan berbeda dari angkatan lainnya.

Selain itu, berbagai pengalaman selama di sekolah—baik pujian maupun hukuman—menjadi bagian dari proses yang membentuk cara berpikir dan sikapnya hingga hari ini.


Kisah Pertemuan yang Berawal dari “Salah Alamat”

Cerita menarik dalam perjalanan hidup Ibu Rika adalah pertemuannya dengan Ust Yayan Haryana, S.Pd.

Saat masih bersekolah, Ust Yayan merupakan kakak kelas yang berbeda dua angkatan. Pertemuan pertama mereka bahkan bermula dari sebuah kejadian sederhana yang ia sebut sebagai “salah alamat”.

Hal kecil yang tampak biasa itu ternyata menjadi awal dari sebuah kisah panjang.

Jika melihat perjalanan hidup mereka hari ini, Ibu Rika merasa bahwa semua itu bukan sekadar kebetulan. Ia percaya bahwa mungkin ada doa-doa yang sama yang mereka panjatkan kepada Allah, meskipun dari tempat yang berbeda.

Beberapa bulan sebelum lulus, Ust Yayan sempat menyampaikan perasaannya. Namun perjalanan hidup membawa mereka ke arah yang berbeda. Waktu dan jarak sempat memisahkan mereka cukup lama.

Hingga beberapa tahun kemudian, takdir kembali mempertemukan mereka.

Menariknya, dalam perjalanan itu Ibu Rika sempat berusaha menjauh dan menghindar. Namun semakin ia mencoba menjauh, keadaan justru terus mempertemukan mereka kembali.

Akhirnya ia memilih untuk melakukan istikharah.

Dari situlah hatinya menemukan ketenangan. Ia merasa bahwa keputusan tersebut bukan hanya pilihan hati, tetapi juga bagian dari ketentuan Allah.

“Beliau bukan sekadar pilihan hati. Bagi saya, karena dia adalah pilihan-Nya untuk saya,” tuturnya.


Nilai Almamater yang Membentuk Kehidupan

Bagi Ibu Rika, almamater tidak hanya memberikan ilmu pengetahuan, tetapi juga nilai kehidupan yang terus terasa hingga hari ini.

Salah satu pelajaran yang paling ia rasakan adalah bahwa seseorang tidak harus selalu terlihat menonjol untuk membuktikan dirinya.

Yang terpenting adalah menjalankan peran dengan sebaik-baiknya sesuai kemampuan.

Menurutnya, sebesar apa pun usaha manusia, takdir tetap berada dalam kehendak Allah. Karena itu tugas manusia adalah beriman, berusaha, dan beramal saleh.

“Kita tidak harus terlihat sempurna di mata manusia. Yang penting adalah berusaha baik di hadapan Allah,” ungkapnya.

Nilai tersebut juga terasa dalam kehidupan rumah tangganya bersama Ust Yayan Haryana. Mereka merasa bahwa proses belajar tentang kehidupan tidak pernah berhenti.

Semakin bertambah usia, semakin terasa bahwa ilmu manusia sangatlah sedikit.

“Ilmu manusia itu seperti setetes air di tengah lautan. Semakin kita menyadarinya, semakin kita merasa kecil di hadapan Allah,” katanya.


Menjaga Silaturahmi Melalui Ikatan Alumni

Saat ini, Ibu Rika diamanahi sebagai salah satu pengurus Ikatan Alumni Angkatan 2001. Keterlibatannya berawal dari keinginan sederhana: menjaga silaturahmi yang telah terjalin sejak masa sekolah.

Seiring waktu, teman-temannya memberikan kepercayaan kepada dirinya untuk ikut terlibat dalam kepengurusan.

Bagi Ibu Rika, amanah tersebut bukan sekadar jabatan, tetapi kesempatan untuk menjaga hubungan baik antar alumni sekaligus tetap berkontribusi kepada almamater.

Kegiatan yang dilakukan oleh Ikatan Alumni lebih banyak berfokus pada menjaga hubungan antarteman. Mereka saling memberi kabar, menyampaikan ucapan selamat ketika ada kabar baik, serta saling menguatkan ketika ada teman yang sedang mengalami musibah.


Kebersamaan Alumni Seperti Tanaman yang Harus Dirawat

Menurut Ibu Rika, kebersamaan alumni memiliki makna yang sangat dalam.

Ia mengibaratkan hubungan antar alumni seperti bercocok tanam. Benih kebersamaan ditanam saat masa sekolah, lalu setelah bertahun-tahun tetap dirawat agar tidak layu.

Silaturahmi adalah tanaman yang harus terus dijaga agar tetap hidup.

Ia juga percaya bahwa alumni memiliki peran penting dalam membawa nama baik almamater. Menjadi pribadi yang baik saja sebenarnya sudah membuat almamater merasa bangga.

Karena setiap alumni membawa nama baik tempat ia pernah belajar.


Pesan Inspiratif untuk Para Alumni

Di akhir perbincangan, Ibu Rika menyampaikan pesan sederhana kepada para alumni agar tidak melupakan almamater.

Ia mengingatkan bahwa setiap orang yang pernah hadir dalam kehidupan kita sejatinya tidak datang secara kebetulan.

Semua telah Allah takdirkan untuk menemani perjalanan hidup kita.

Karena itu, menjaga silaturahmi adalah bentuk rasa syukur atas pertemuan tersebut.

Kontribusi kepada almamater tidak harus selalu besar. Bisa melalui harta, tenaga, ataupun doa.

“Terkadang doa yang tulus adalah balasan terbaik bagi mereka yang pernah singgah dalam kehidupan kita,” ujarnya.

Jika kisah hidupnya dirangkum dalam satu kalimat tentang almamater, maka kalimat yang paling menggambarkan perjalanan hidupnya adalah:

“Bermula dari Sekolah yang Sama, Berakhir pada Takdir yang Sama.”

Sebuah kisah yang mengingatkan kita bahwa terkadang takdir terbaik dalam hidup memang berawal dari tempat yang sederhana: bangku sekolah.

💬 Tanya Penulis



Posting Komentar

0 Komentar