Langit sore itu seperti sedang tidak ingin buru-buru gelap.
Warnanya perlahan berubah dari biru pucat menjadi jingga hangat, seolah-olah matahari pun ingin menikmati waktunya lebih lama sebelum benar-benar tenggelam. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah yang mulai dingin dan sedikit basah—aroma yang entah kenapa selalu terasa menenangkan.
Di teras rumah sederhana itu, Ibu Lisna duduk sendirian.
Tangannya menggenggam secangkir teh hangat yang uapnya masih tipis menari di udara. Ia tidak sedang sibuk. Tidak sedang melakukan sesuatu yang penting. Bahkan bisa dibilang, ia hanya diam.
Namun justru di dalam diam itu, pikirannya berjalan jauh.
Lebih jauh dari langkah kaki yang pernah ia tempuh.
Pelan-pelan, kenangan datang tanpa diminta.
Tahun 2001.
Seketika, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil yang tidak ia sadari.
Masa sekolah.
Masa di mana hidup belum dipenuhi daftar tanggung jawab panjang. Masa di mana lelah hanya sebatas mengerjakan PR, bukan memikirkan masa depan. Masa di mana kebahagiaan sering datang dari hal-hal yang sangat sederhana.
Ia memejamkan mata sejenak.
Dan seolah-olah, ia kembali ke sana.
Ruang kelas itu muncul lagi dalam bayangannya—dinding yang tidak sempurna, meja kayu yang penuh goresan, kursi yang kadang bunyinya lebih nyaring daripada suara guru.
Suasana yang, jika dilihat sekarang, mungkin terasa biasa saja.
Tapi dulu… itu adalah dunia.
“Lisna, nomor lima gimana sih?” suara seseorang tiba-tiba terdengar jelas di ingatannya.
Ia bisa melihat dirinya yang lebih muda, duduk berkelompok bersama teman-temannya. Buku terbuka, tapi fokusnya sering kali bukan di pelajaran.
“Liat sini aja… tapi jangan bilang siapa-siapa ya,” jawabnya sambil menahan tawa.
Dan seperti biasa, semua berakhir dengan tawa.
Tawa yang ringan.
Tawa yang jujur.
Tawa yang tidak dibuat-buat.
Mereka sering belajar bersama. Atau setidaknya, berkumpul dengan alasan belajar.
Kadang benar-benar saling membantu. Kadang juga saling bergantung dengan cara yang… ya, khas anak sekolah.
Tapi tidak ada yang terasa salah saat itu.
Semua terasa wajar.
Semua terasa menyenangkan.
Ibu Lisna membuka matanya perlahan.
Ia tersenyum lagi, kali ini sedikit lebih lama.
Kenangan itu bukan hanya tentang teman.
Tapi juga tentang orang-orang yang diam-diam membentuk dirinya.
Bu Ika.
Nama itu langsung muncul tanpa perlu dipanggil.
Seorang guru yang tidak hanya mengajar, tapi juga memberi rasa nyaman. Cara bicaranya lembut, tapi jelas. Cara mengajarnya tidak pernah membuat murid merasa bodoh.
Justru sebaliknya.
Ia membuat mereka percaya bahwa mereka bisa.
Dan mungkin, tanpa disadari, itulah yang paling membekas.
Bukan rumus yang diajarkan.
Tapi perasaan dihargai.
Selain Bu Ika, ada juga sosok yang tidak kalah berkesan.
Ustadz Hasan.
Ibu Lisna tertawa kecil saat mengingatnya.
Bukan karena pelajarannya, tapi karena satu hal yang sangat khas—celana cutbray yang selalu ia pakai.
Hal sederhana. Bahkan mungkin terlihat sepele.
Tapi justru itu yang membuat seseorang sulit dilupakan.
Ia juga teringat seorang guru olahraga. Wajahnya masih samar, namanya hampir hilang dari ingatan.
Namun satu hal yang tidak hilang—kebaikannya.
Kadang memang begitu.
Waktu boleh menghapus detail, tapi tidak pernah benar-benar bisa menghapus rasa.
Angin sore kembali berhembus.
Membawa Ibu Lisna lebih dalam lagi ke kenangan yang paling ia rindukan.
Perjalanan pulang sekolah.
Naik angkot bersama teman-teman.
Berdesakan.
Kadang harus berbagi tempat duduk yang sempit. Kadang berdiri sambil berpegangan seadanya.
Tapi justru di situlah letak ceritanya.
Obrolan yang tidak pernah ada habisnya.
Mulai dari hal penting sampai hal yang sama sekali tidak penting.
Tertawa tanpa alasan.
Saling mengejek tanpa baper.
Saling bercerita tentang hal-hal kecil yang saat itu terasa besar.
Tidak ada yang mewah.
Tidak ada yang luar biasa.
Tapi semuanya terasa hidup.
Ibu Lisna menarik napas panjang.
Ada perasaan hangat yang menyebar di dadanya.
Dan juga… sedikit rindu.
Ia sadar, waktu sudah berjalan sangat jauh.
Teman-temannya sekarang punya kehidupan masing-masing. Guru-gurunya mungkin sudah tidak lagi mengajar. Bahkan beberapa mungkin sudah tidak ada.
Namun kenangan itu…
Masih ada.
Masih utuh.
Masih hidup.
Ia menatap langit yang kini mulai gelap.
Warna jingga perlahan digantikan oleh biru tua.
Hari hampir selesai.
Tapi kenangan itu tidak ikut pergi.
Malah semakin terasa jelas.
Ibu Lisna menyesap tehnya yang kini mulai dingin.
Ia tersenyum lagi, kali ini dengan cara yang berbeda.
Bukan sekadar mengingat.
Tapi mensyukuri.
Karena ia sadar satu hal—
Masa lalu mungkin tidak bisa diulang.
Tapi ia bisa tetap hidup… selama masih diingat.
Dan mungkin, tanpa ia sadari, semua kenangan itu telah menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Sesuatu yang akan membawanya ke perjalanan berikutnya.
Perjalanan yang dulu hanya sebatas mimpi.
Dan sebentar lagi… akan benar-benar ia jalani.

0 Komentar