Chapter 3-Takdir yang Tumbuh di Tempat Sederhana

 

Takdir yang Tumbuh di Tempat Sederhana

Dulu, aku dan suamiku mungkin tidak pernah menyadari bahwa perjalanan kami di MA Al-Huda adalah bagian dari jalan takdir yang sedang disusun dengan begitu rapi oleh Allah.

Sekolah kami saat itu sederhana. Tidak ada pagar, tidak ada gerbang yang membatasi. Seolah siapa pun bisa datang dan pergi, seperti kehidupan yang terus berjalan tanpa sekat.

Dua gedung sekolah berdiri terpisah, di antaranya membentang jalan dengan lalu lintas yang begitu aktif. Setiap hari kami terbiasa melihat kendaraan berlalu-lalang, seperti waktu yang tak pernah berhenti.

Ruang-ruang kelas pun tidak seragam. Ada yang luas, ada yang sempit. Bahkan kami sering memberi nama sendiri pada ruangan-ruangan itu—cara sederhana untuk memberi kenangan pada tempat yang kami tempati setiap hari.

Di tempat itulah kami tumbuh… tanpa sadar sedang dipersiapkan.

Suamiku memilih jurusan IPS. Sementara aku berada di IPA. Dua pilihan yang berbeda, dua cara pandang yang tidak selalu sama.

Dulu mungkin itu hanya sekadar jurusan.

Namun kini aku menyadari, perbedaan itu ternyata ikut terbawa dalam kehidupan rumah tangga kami.

Dalam cara kami berpikir…

Dalam cara kami mempertimbangkan sesuatu…

Dalam cara kami mengambil keputusan…

Dan bahkan dalam cara kami merespons masalah.

Ia dengan sudut pandangnya, aku dengan caraku.

Kadang berbeda, kadang tidak sejalan. Tapi justru di situlah kami belajar—bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk saling melengkapi.


Seiring waktu, aku semakin memahami satu hal sederhana namun dalam:

Kami dipertemukan bukan untuk menjadi sama, tapi untuk saling menyempurnakan.

Seperti sekolah kami dulu… yang tanpa pagar, tanpa batas yang kaku.

Justru dari kesederhanaan itulah kami belajar menerima, memahami, dan bertumbuh.

Dan tanpa kami sadari, di tempat sederhana itu… takdir kami mulai menemukan arahnya.

Posting Komentar

0 Komentar