Chapter 2-Mengenang Perjalanan Cinta di Malam Pertama

Mengenang Perjalanan Cinta di Malam Pertama

Malam itu, suasana masih terasa hangat oleh akad yang baru saja terucap. Seorang laki-laki yang pagi harinya menjabat tangan kakak lelakiku, kini duduk di hadapanku sebagai suamiku.

Dengan suara pelan, ia mulai mencairkan suasana.

“Aku pertama kali melihatmu di lorong tangga. Mungkin kamu tidak menyadarinya, tapi saat itu… ada sesuatu yang berbeda. Seperti ada sinyal yang sampai ke hati.”

Aku terdiam, tersenyum kecil. Kalimat sederhana itu membuka kembali lembaran-lembaran lama dalam ingatanku.

Aku pun teringat, bagaimana semua ini bermula.

Dari sebuah salam yang dititipkan melalui teman. Dari rasa penasaran yang tumbuh perlahan. Dari masa-masa ketika perasaan belum berani diungkapkan terang-terangan, hanya disimpan dalam diam dan doa.

Saat itu sedang musim menulis diary. Segala cerita kecil, rasa yang tak sempat terucap, kutitipkan dalam lembar-lembar kertas yang kupikir hanya akan menjadi kenangan.

Hingga suatu hari, setelah kami menikah, aku kembali membuka diary itu.

Dan aku tertegun.

Beberapa hari sebelum ia menyatakan perasaannya, ternyata aku pernah menulis sebuah doa:

“Ya Allah, jika Engkau mempertemukanku dengan seorang laki-laki dalam hidupku, jadikanlah ia sebagai suamiku.”

Aku tidak pernah menyangka, doa sederhana itu Allah dengar… dan Allah jawab, dengan cara-Nya yang begitu indah.

Saat itu aku masih kelas satu, dan dia sudah kelas tiga. Waktu terasa begitu singkat. Setelah ia lulus, kami pun berpisah. Hidup membawa kami ke jalan masing-masing, tanpa tahu apakah akan dipertemukan kembali atau tidak.

Namun takdir tidak pernah benar-benar kehilangan arah.

Beberapa tahun kemudian, Allah mempertemukan kami kembali—bukan lagi sebagai dua orang yang sekadar saling mengenal, tapi sebagai dua hati yang dipersatukan dalam ikatan yang halal.

Malam itu, aku menyadari…

Bahwa cinta kami bukan sekadar tentang pertemuan. Tapi tentang doa yang diam-diam dipanjatkan, tentang waktu yang sabar menunggu, dan tentang takdir yang bekerja dengan caranya sendiri.

Posting Komentar

0 Komentar