Ada hal-hal dalam hidup yang tidak bisa dijelaskan dengan logika.
Tidak bisa dihitung dengan angka.
Tidak bisa diukur dengan pencapaian.
Dan tidak selalu bisa diceritakan dengan kata-kata.
Hanya bisa… dirasakan.
Bagi Ibu Lisna, perasaan itu sering datang saat ia berada di tengah alam.
Jauh dari rumah.
Jauh dari keramaian.
Jauh dari segala hal yang biasanya memenuhi hari-harinya.
Di sana, di antara pohon-pohon tinggi dan jalur setapak yang panjang, ia menemukan sesuatu yang selama ini sering ia cari tanpa sadar—
Ketenangan.
Perjalanan itu biasanya dimulai seperti biasa. Persiapan, langkah awal, ritme yang perlahan terbentuk. Namun semakin ia masuk ke dalam jalur, semakin ia merasa seperti meninggalkan sesuatu di belakang.
Bukan barang.
Tapi beban.
Pikiran-pikiran yang biasanya ramai perlahan mulai mereda. Hal-hal yang tadinya terasa penting… tiba-tiba tidak lagi mendesak.
Seolah-olah alam sedang berkata,
“Udah… santai dulu.”
Di salah satu pendakiannya, Lisna sempat berhenti cukup lama.
Bukan karena lelah.
Tapi karena ia ingin.
Ia duduk di atas batang kayu yang tumbang, menatap ke arah hutan yang seakan tidak ada ujungnya. Cahaya matahari masuk di sela-sela daun, membentuk garis-garis tipis yang bergerak pelan mengikuti arah angin.
Udara terasa dingin.
Tapi justru itu yang membuatnya nyaman.
Ia menarik napas dalam-dalam.
Lama.
Lalu menghembuskannya perlahan.
Dan di momen itu… tidak ada yang ia pikirkan.
Benar-benar kosong.
Bukan kosong karena tidak ada isi.
Tapi kosong karena semua yang biasanya penuh… akhirnya diam.
“Enak banget ya, rasanya…” gumamnya pelan.
Tidak ada yang menjawab.
Tapi ia tidak butuh jawaban.
Karena ia sudah menemukannya sendiri.
Selama ini, hidupnya dipenuhi oleh peran.
Sebagai ibu.
Sebagai istri.
Sebagai seseorang yang harus selalu ada untuk orang lain.
Dan ia menjalaninya dengan sepenuh hati.
Tanpa mengeluh.
Namun di balik itu semua, ada satu hal yang sering terlewat—
Dirinya sendiri.
Bukan berarti ia tidak bahagia.
Hanya saja, ia jarang punya waktu untuk benar-benar berhenti dan bertanya,
“Aku gimana?”
Dan justru di gunung, pertanyaan itu akhirnya muncul.
Bukan dengan cara yang memaksa.
Tapi dengan cara yang… alami.
Di tengah sunyi, ia mulai mendengar dirinya sendiri.
Apa yang ia rasakan.
Apa yang ia butuhkan.
Apa yang selama ini ia pendam tanpa sadar.
Tidak ada distraksi.
Tidak ada notifikasi.
Tidak ada suara yang saling bertabrakan.
Hanya ada ia… dan pikirannya sendiri.
Dan anehnya, itu tidak menakutkan.
Justru menenangkan.
Lisna tersenyum kecil.
Ia menyadari sesuatu yang sederhana, tapi penting—
Bahwa kebahagiaan tidak selalu harus dicari jauh-jauh.
Kadang, ia sudah ada.
Hanya saja tertutup oleh kesibukan.
“Ini tuh… me time ala-ala aku,” katanya suatu waktu sambil tertawa ringan.
Kalimat yang terdengar santai.
Tapi sebenarnya… dalam.
Karena bagi sebagian orang, me time mungkin berarti liburan ke tempat mewah, belanja, atau sekadar nongkrong.
Namun bagi Lisna, me time adalah berjalan di jalur tanah, berkeringat, dan duduk di tengah hutan.
Sederhana.
Tapi cukup.
Di sana, ia tidak perlu menjadi siapa-siapa.
Tidak perlu terlihat kuat.
Tidak perlu terlihat sempurna.
Ia bisa lelah.
Ia bisa diam.
Ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus menjelaskan apa pun.
Dan itu… sangat berharga.
Di perjalanan lain, ia pernah berdiri di sebuah titik yang cukup tinggi.
Bukan puncak, tapi cukup untuk melihat jauh.
Langit terbuka lebar. Awan bergerak pelan, seperti kapas yang mengapung tanpa tujuan. Angin berhembus lebih kencang, membuat jaketnya sedikit berkibar.
Ia memandang ke depan.
Lama.
Ada perasaan yang sulit dijelaskan.
Seperti… kecil, tapi damai.
Seperti… tidak punya apa-apa, tapi tidak merasa kekurangan.
Dan di situlah ia sadar—
Selama ini, mungkin ia terlalu sibuk mengejar hal-hal yang sebenarnya tidak selalu ia butuhkan.
Padahal, kebahagiaan bisa sesederhana ini.
Berdiri.
Melihat.
Dan merasa cukup.
Air matanya sempat menggenang.
Bukan karena sedih.
Tapi karena lega.
Seperti ada sesuatu yang akhirnya dilepaskan.
Sesuatu yang selama ini ia bawa tanpa sadar.
Ia mengusap pelan sudut matanya, lalu tersenyum.
“Kayaknya… aku bakal terus balik ke sini,” bisiknya.
Dan memang benar.
Setelah itu, mendaki bukan lagi sekadar aktivitas.
Bukan juga sekadar hobi.
Tapi sudah menjadi bagian dari dirinya.
Setiap kali ia merasa lelah dengan rutinitas, ia tahu harus ke mana.
Setiap kali pikirannya mulai penuh, ia tahu bagaimana cara mengosongkannya.
Gunung bukan tempat pelarian.
Tapi tempat kembali.
Kembali ke versi dirinya yang paling jujur.
Yang tidak dibuat-buat.
Yang tidak dipaksakan.
Yang hanya… ada.
Dan dari situlah ia menemukan satu hal penting—
Bahwa untuk bisa terus memberi kepada orang lain, seseorang juga perlu memberi waktu untuk dirinya sendiri.
Bukan egois.
Tapi perlu.
Karena hati yang tenang… akan membuat langkah jadi lebih ringan.
Dan langkah yang ringan… akan membawa hidup ke arah yang lebih baik.
Lisna berdiri dari tempat duduknya.
Melihat sekali lagi ke arah hutan yang tenang.
Lalu melangkah lagi.
Namun kali ini, ia tidak hanya berjalan dengan tubuhnya.
Ia berjalan dengan hati yang lebih ringan.
Dan mungkin… lebih utuh.
Admin Online
0 Komentar