Ust Apay: Sosok Tegas yang Diam-Diam Membentuk Generasi Hebat

ust Apay

Ada sosok yang tak sekadar hadir dalam ruang kelas, tapi benar-benar hidup dalam ingatan para santri—Drs. Supardi, yang lebih akrab disapa Ust Apay.

Lahir di Bandung pada 24 November 1950, beliau dikenal sebagai pimpinan pesantren sekaligus kepala madrasah pada masa angkatan 2001 masih menimba ilmu sebagai santri. Di masa itulah, Ust Apay menorehkan jejak kepemimpinan yang bukan cuma soal aturan, tapi soal keteladanan yang nyata dan terasa.

Beliau dikenal sebagai pribadi yang baik, murah senyum, dan dekat dengan santri. Interaksinya sederhana, tapi penuh makna. Tidak berjarak, tidak kaku. Santri merasa nyaman, tapi tetap hormat. Ada keseimbangan yang jarang dimiliki semua pemimpin.

Namun, satu hal yang paling membekas adalah ketegasannya. Ust Apay bukan tipe yang banyak bicara soal disiplin—beliau langsung menunjukkannya lewat tindakan. Prinsip hidupnya jelas: kalau ingin dihormati, beri contoh dulu.

Dan beliau benar-benar melakukan itu.

Di saat banyak orang masih terlelap, Ust Apay sudah lebih dulu hadir di lingkungan pesantren. Datang lebih pagi dari santri, bahkan tak jarang terlihat membersihkan lingkungan sendiri sebelum kegiatan belajar dimulai. Bukan pencitraan. Bukan formalitas. Itu kebiasaan.

Pesannya sederhana tapi dalem banget: jangan cuma nyuruh—kalau bisa, mulai duluan.

Penampilannya pun selalu rapih dan tertata. Setiap hari. Konsisten. Dari situ, tanpa ceramah panjang, santri belajar arti menghargai diri sendiri dan lingkungan. Hal-hal kecil, tapi impact-nya gede.

Ketegasan beliau kadang terasa keras saat itu. Tapi seiring waktu, justru itulah yang paling dirindukan. Karena dari situlah karakter terbentuk—disiplin, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap waktu dan aturan.

Tak heran, ketika beliau berpulang ke Rahmatullah, rasa kehilangan begitu terasa. Bukan hanya kehilangan seorang pimpinan, tapi kehilangan sosok yang sudah seperti orang tua, guru, sekaligus teladan hidup.

Hari ini, mungkin sosoknya sudah tak lagi terlihat berjalan di halaman pesantren. Tapi nilai-nilai yang beliau tanamkan? Masih hidup. Masih dipraktikkan. Masih jadi pegangan.

Karena pada akhirnya, Ust Apay bukan hanya meninggalkan kenangan—
beliau meninggalkan cara hidup.

Posting Komentar

0 Komentar