Dadang Sulaeman, S.Pd: Dari Madrasah ke Pesantren, Menghidupkan Harapan Pendidikan Umat

Dadang Sulaeman

Di tengah kesibukan dunia pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat, nama Dadang Sulaeman, S.Pd dikenal sebagai sosok yang konsisten menapaki jalan dakwah melalui pendidikan. Lahir pada 15 Juni 1981, ia tumbuh dengan semangat belajar dan pengabdian yang kuat. Saat ini, ia tinggal di Landean Girang RT 03 RW 11, Desa Sukamukti, Kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung. Dari tempat sederhana itu, lahir berbagai ikhtiar untuk membangun generasi yang berilmu dan berakhlak.

Hari ini, Dadang Sulaeman mengemban amanah sebagai Kepala MA Persis 40 Sarongge Pamulihan Kabupaten Sumedang sekaligus Pembina Yayasan Sarongge Edu Media (Pesantren Miftahul Haq). Dua peran ini menjadi ladang pengabdian yang ia jalani dengan penuh tanggung jawab dan keikhlasan.


Awal Perjalanan: Mengenal Dunia Agama di MA Al Huda

Perjalanan intelektual dan spiritual Dadang Sulaeman mulai terasa kuat ketika ia masuk MA Al Huda PPI 70 Pameungpeuk pada tahun 1999. Masa itu menjadi titik balik penting dalam hidupnya.

Ia datang dari latar belakang pendidikan SMP, bukan dari MTs, sehingga ketika memasuki Madrasah Aliyah, ia merasakan seolah sedang menemukan kembali sesuatu yang selama ini belum ia pelajari secara mendalam: ilmu agama.

Menurutnya, masuk ke MA Al Huda seperti memasuki dunia baru yang lebih baik.

Di sana, ia tidak hanya belajar pelajaran formal, tetapi juga mendapatkan pembinaan spiritual yang kuat. Salah satu yang paling membekas adalah pelajaran Tafsir Am, yang membuka cakrawala pemahaman Al-Qur’an secara lebih luas.

Namun yang paling berkesan bukan hanya ilmunya, melainkan juga kedekatan para ustadz dengan para santri. Pendekatan yang penuh kekeluargaan membuat suasana belajar terasa hangat. Para guru bukan hanya mengajar, tetapi juga membimbing, memotivasi, dan menanamkan nilai-nilai kehidupan.

Motivasi yang terus diberikan oleh para ustadz membuat Dadang Sulaeman memiliki tekad kuat untuk selalu berbuat baik dan memberi manfaat bagi orang lain.


Perjalanan Akademik dan Pencarian Jati Diri

Setelah menamatkan pendidikan di MA Al Huda, perjalanan akademiknya tidak selalu berjalan lurus. Ia sempat melanjutkan studi di FISIP Nurtanio, namun hanya bertahan hingga empat semester.

Perjalanan pencarian ilmu kemudian membawanya ke Ma’had Imarat, tempat ia memperdalam pendidikan selama sekitar satu tahun. Setelah itu, ia melanjutkan studi di UIN Bandung dengan mengambil jurusan Tasawuf.

Di sana, ia semakin mendalami dimensi spiritual dalam Islam. Ilmu tasawuf memperkaya pandangannya tentang kehidupan, bahwa pendidikan tidak hanya membentuk kecerdasan intelektual, tetapi juga harus membentuk kedalaman hati dan akhlak.

Perjalanan akademiknya kemudian disempurnakan dengan menyelesaikan S1 di STKIP Persis, yang semakin menguatkan posisinya sebagai seorang pendidik.


Pernikahan dan Awal Pengabdian Organisasi

Salah satu momen penting dalam perjalanan hidupnya terjadi pada tahun 2004, ketika ia menikah dengan Lina Nurfallah.

Istrinya bukan sosok biasa. Ia merupakan putri dari tokoh pendiri PPI 40 Sarongge Sumedang. Pernikahan ini bukan hanya menyatukan dua insan, tetapi juga memperkuat ikatan pengabdian pada dunia pendidikan dan dakwah.

Sejak saat itu, Dadang Sulaeman semakin aktif dalam kegiatan organisasi dan pendidikan. Ia dipercaya menjadi Ketua PC Persis 40 Pamulihan selama dua periode.

Di masa ini, ia belajar banyak tentang:

  • kepemimpinan organisasi
  • manajemen pendidikan
  • pengelolaan kegiatan sosial kemasyarakatan

Semua itu dijalani sambil tetap menuntaskan pendidikan di STKIP Persis.

Pengalaman organisasi tersebut menjadi bekal berharga dalam memimpin lembaga pendidikan dan menggerakkan masyarakat.


Masa Pandemi: Dari Tantangan Menjadi Peluang

Tahun 2021, ketika pandemi Covid-19 melanda, dunia pendidikan mengalami guncangan besar. Pembelajaran tatap muka dihentikan, dan banyak santri harus dipulangkan ke rumah masing-masing.

Saat itu, Dadang Sulaeman menghadapi tanggung jawab besar.

Sebagian santri yang belajar di PPI 40 Sarongge Sumedang berasal dari Kabupaten Bandung, khususnya daerah Arjasari. Ketika kegiatan pesantren dihentikan sementara, para santri harus kembali ke rumah.

Namun sebagai orang tua asuh, ia merasa tidak bisa hanya melepas begitu saja.

Dengan rasa tanggung jawab yang kuat, ia membawa para santri tersebut ke sebuah madrasah di Landean Girang, yaitu Madrasah Miftahul Haq.

Awalnya, langkah itu hanya sebagai solusi sementara agar para santri tetap memiliki tempat belajar. Namun dari situ justru lahir sesuatu yang lebih besar.


Pesantren Miftahul Haq

Lahirnya Pesantren Miftahul Haq

Sejak tahun 2021, Madrasah Miftahul Haq mulai berkembang secara lebih serius. Administrasi kelembagaan mulai diperkuat, termasuk proses pengurusan NSPP (Nomor Statistik Pondok Pesantren).

Dari sebuah madrasah sederhana, lembaga ini kemudian berkembang menjadi Pesantren Miftahul Haq.

Kini pesantren tersebut membina berbagai program pendidikan dan pembinaan masyarakat, di antaranya:

1. TK Miftahul Haq
Pendidikan anak usia dini dengan pendekatan nilai-nilai Islam.

2. Pesantren Remaja dan Mahasiswa
Program pembinaan bagi generasi muda agar memiliki dasar keilmuan agama yang kuat.

3. Pesantren Husnul Khotimah
Program khusus bagi lansia dan janda, sebagai tempat pembinaan spiritual agar dapat menjalani masa tua dengan ketenangan dan kedekatan kepada Allah.

Tidak berhenti di situ, pada tahun ini pesantren juga berencana membuka SDIT Miftahul Haq, yang rencananya akan menerima sekitar 20 calon siswa pada angkatan pertama.

Saat ini, pesantren tersebut telah memiliki:

  • 120 santri
  • 14 orang pengurus

Sebuah perkembangan yang cukup signifikan bagi lembaga yang baru berkembang dalam beberapa tahun terakhir.


Nasihat yang Membekas

Dalam perjalanan hidupnya, Dadang Sulaeman selalu mengingat sebuah nasihat yang pernah disampaikan oleh Ustadz Drs. Supardi (Apay), yang saat itu menjabat sebagai Mudir.

Pesan itu sederhana namun sangat kuat:

“Maksimalkan berbuat baik. Hasil tidak akan pernah mengkhianati usaha. Bersabarlah dan tetap berusaha keras.”

Nasihat tersebut menjadi pegangan hidupnya hingga hari ini.

Bagi Dadang, tugas manusia adalah berusaha sebaik mungkin. Hasilnya adalah urusan Allah.


Tantangan dalam Membangun Pesantren

Membangun lembaga pendidikan tentu bukan tanpa tantangan.

Menurut Dadang Sulaeman, tantangan terbesar saat ini adalah mempersiapkan sumber daya manusia dan infrastruktur yang layak. Pesantren membutuhkan tenaga pendidik yang kompeten, sistem manajemen yang baik, serta fasilitas yang memadai.

Selain itu, tantangan lain yang tidak kalah besar adalah mengubah pola pikir masyarakat.

Masih ada sebagian jamaah yang memiliki pola pikir stagnan dan skeptis terhadap perubahan. Padahal, kemajuan pendidikan membutuhkan semangat optimisme dan kesediaan untuk berkorban.

Karena itu, ia terus berusaha membangun kesadaran bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang bagi umat.


Pesan Kehidupan

Di balik segala aktivitasnya sebagai pendidik dan pengelola pesantren, Dadang Sulaeman memiliki pesan sederhana namun mendalam.

Menurutnya, kehidupan dunia tidak boleh dipisahkan dari nilai kebaikan.

Ia sering menyampaikan pesan ini kepada para santri dan masyarakat:

“Kejarlah dunia dengan cara berbuat baik, sehingga hasilnya bisa dinikmati di dunia dan juga di akhirat.”

Bagi Dadang, kesuksesan sejati bukan hanya tentang pencapaian materi, tetapi tentang seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain.


Menyalakan Cahaya Pendidikan

Perjalanan Dadang Sulaeman menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali berawal dari langkah kecil.

Dari seorang santri yang merasakan hangatnya pendidikan di MA Al Huda, kini ia menjadi pemimpin lembaga pendidikan yang membina ratusan santri.

Pesantren Miftahul Haq yang ia bina hari ini bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi juga ruang harapan bagi banyak orang: anak-anak, remaja, mahasiswa, bahkan para lansia yang ingin memperdalam agama.

Langkahnya mungkin tidak selalu mudah, tetapi satu hal yang selalu ia pegang teguh: selama niatnya untuk kebaikan, jalan akan selalu terbuka.

Dan dari sebuah sudut desa di Landean Girang, cahaya pendidikan itu terus dinyalakan—pelan, tapi pasti.

Posting Komentar

4 Komentar

  1. Mantap luar biasa semoga Redaksinya semakin maju dan sukses

    BalasHapus
  2. Masya Alloh, sangat menginspirasi sekali, semoga lebih banyak lagi generasi muda yang aktif sebagai penggiat sosial dengan berbasis keagamaan.

    BalasHapus