Bagi sebagian orang, usia yang tak lagi muda sering dianggap sebagai waktu untuk memperlambat langkah. Aktivitas santai menjadi pilihan, sementara tantangan fisik perlahan ditinggalkan. Namun tidak demikian bagi Ibu Lisna, alumni Alhuda angkatan 2001. Di tengah kesibukan hidup dan usia yang terus bertambah, ia justru memilih berjalan menantang jalur-jalur alam—mendaki, trekking, dan menjelajah pegunungan.
Bagi Ibu Lisna, alam bukan sekadar tempat wisata. Alam adalah ruang untuk bernapas, merenung, dan menemukan kembali dirinya sendiri.
Kenangan Sekolah yang Masih Hangat
Ketika mengenang masa-masa menjadi siswi di Alhuda tahun 2001, wajah Ibu Lisna langsung dihiasi senyum. Kenangan yang paling sering muncul bukan hanya tentang pelajaran, tetapi juga tentang kebersamaan yang penuh cerita.
Salah satu momen yang paling diingatnya adalah saat mengerjakan tugas atau PR bersama teman-teman. Kadang mereka saling membantu, bahkan sesekali “nyontek bareng” dengan penuh tawa. Dari situlah ia mengenang sosok Bu Ika, guru yang menurutnya sangat baik, pintar, dan tidak pelit berbagi ilmu.
Kenangan lain juga datang dari para asatidz yang begitu berkesan. Ia masih mengingat almarhum Ustadz Hasan, guru kimia yang dikenal dengan gaya khasnya mengenakan celana cutbray. Ada pula seorang guru olahraga yang baik hati, meski kini namanya sudah samar dalam ingatan.
Tidak kalah seru adalah perjalanan pulang sekolah. Naik angkot bersama teman-teman menjadi bagian dari cerita sederhana yang justru terasa paling hangat ketika dikenang kembali.
Hobi Lama yang Sempat Tertunda
Di balik kegemarannya menjelajah alam saat ini, ternyata kecintaan Ibu Lisna terhadap hiking sudah tumbuh sejak lama—bahkan sejak masa sekolah.
Namun saat itu, langkahnya sempat tertahan. Bukan karena kehilangan minat, tetapi karena belum mendapat izin dari sang ayah. Keinginan untuk mendaki akhirnya hanya tersimpan sebagai hobi yang tertunda.
Seiring berjalannya waktu dan berbagai fase kehidupan yang dilalui, kesempatan itu akhirnya datang juga. Kini, aktivitas hiking dan trekking menjadi bagian dari hidupnya.
“Happy saja,” katanya sederhana ketika mengingat pengalaman pertamanya mendaki. Karena baginya, itu bukan hal baru—melainkan mimpi lama yang akhirnya bisa dijalani.
Tantangan di Jalur Alam
Bagi para pendaki, setiap perjalanan selalu meninggalkan cerita. Begitu juga bagi Ibu Lisna.
Menurutnya, setiap pendakian memiliki kesan tersendiri, terutama ketika harus menghadapi cuaca yang tidak bersahabat. Namun tantangan yang paling terasa justru datang ketika perjalanan pulang.
“Pas turunan menuju pulang, asli itu dengkul kena banget,” ujarnya sambil tertawa.
Meski begitu, rasa lelah itu seakan terbayar lunas ketika ia melihat pemandangan pegunungan yang dipenuhi pohon-pohon tinggi. Udara segar dan suasana tenang di alam membuat hatinya terasa lebih teduh.
Alam sebagai Tempat Menenangkan Diri
Di tengah perjalanan mendaki, sering kali seseorang menemukan refleksi kehidupan. Bagi Ibu Lisna, berada di alam memberikan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Melihat hutan dengan pepohonan tinggi, merasakan udara segar pegunungan, dan berjalan jauh dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari membuat pikirannya terasa lebih ringan.
Itulah sebabnya ia tidak pernah memandang hiking sebagai sesuatu yang “penting” dalam arti serius. Baginya, aktivitas ini lebih seperti hadiah kecil untuk dirinya sendiri.
“Lebih ke menyenangkan hati… me time ala-ala aku,” katanya.
Apalagi kini anak-anaknya sudah beranjak dewasa dan memiliki kesibukan masing-masing. Mendaki menjadi cara sederhana untuk tetap menjaga kebahagiaan diri.
Dukungan yang Datang Perlahan
Pada awalnya, hobi ini sempat membuat keluarga khawatir. Aktivitas mendaki memang tidak bisa dibilang ringan, apalagi bagi seorang perempuan.
Namun seiring waktu, keluarga mulai memahami dan memberi dukungan. Kini Ibu Lisna bahkan sudah “mengantongi izin” dari suami dan anak-anaknya untuk terus menjalani hobinya menjelajah alam.
Pesan untuk Perempuan yang Masih Ragu
Bagi perempuan seusianya—terutama para alumni Alhuda—yang ingin mencoba hiking namun masih ragu, pesan Ibu Lisna sangat sederhana.
“Coba saja dulu.”
Terkadang, keberanian memulai adalah langkah paling penting. Karena dari satu langkah kecil itulah seseorang bisa menemukan kebahagiaan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Langkah yang Masih Ingin Dilanjutkan
Meski sudah menjelajahi beberapa jalur alam, perjalanan Ibu Lisna belum berhenti. Ia masih memiliki daftar impian tempat-tempat yang ingin didaki.
Salah satunya adalah Gunung Mega, yang suatu hari nanti ingin ia jelajahi.
Langkah kakinya mungkin tidak lagi secepat dulu. Namun semangatnya tetap sama: berjalan, menikmati alam, dan menemukan ketenangan di setiap jalur yang ia lewati.
Karena bagi Ibu Lisna, usia tidak pernah menjadi batas untuk menikmati hidup—selama hati masih ingin melangkah. ⛰️🌲✨
.png)

1 Komentar
Semangat bu, aku mendukungmu, chayyo!!!
BalasHapusTp moal ngiringan abi mah 🤭😅🤣🤣🤣