Bab 5: Langkah yang Belum Selesai

 

Langkah yang Belum Selesai

Tidak semua perjalanan langsung dimengerti oleh orang lain.

Begitu juga dengan langkah yang dipilih Ibu Lisna.

Di awal, ketika ia mulai rutin mendaki, tidak semua orang langsung paham. Beberapa hanya melihat dari permukaan—seorang perempuan, tidak lagi muda, memilih naik gunung yang jalurnya tidak mudah.

Kekhawatiran pun datang.

“Emang kuat?”
“Aman nggak sih?”
“Ngapain juga capek-capek begitu?”

Pertanyaan-pertanyaan itu sering ia dengar.

Bukan dengan niat meremehkan.
Tapi lebih karena rasa sayang yang bercampur dengan rasa khawatir.

Dan Lisna mengerti itu.

Ia tidak pernah marah.

Tidak juga mencoba menjelaskan panjang lebar.

Ia hanya menjalaninya.

Karena ia tahu, ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Harus dirasakan.

Waktu berjalan.

Pendakian demi pendakian ia lalui.

Dan perlahan, orang-orang di sekitarnya mulai melihat sesuatu yang berbeda.

Lisna tidak terlihat lelah dengan hidupnya.

Justru sebaliknya.

Ia terlihat lebih segar. Lebih ringan. Lebih… hidup.

Ada energi yang berbeda saat ia bercerita.

Ada cahaya di matanya yang tidak semua orang punya.

Dan dari situlah, pemahaman itu mulai tumbuh.

Keluarganya pun perlahan berubah.

Dari yang awalnya khawatir… menjadi percaya.

Dari yang awalnya ragu… menjadi mendukung.

Suatu malam, setelah ia pulang dari salah satu pendakian, ia duduk bersama keluarganya.

Obrolannya santai.

Tidak ada yang serius.

Namun di tengah percakapan itu, ada satu kalimat yang membuat Lisna terdiam sejenak.

“Yang penting hati-hati ya, Bu.”

Sederhana.

Tapi cukup.

Karena di dalam kalimat itu, ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar izin.

Ada kepercayaan.

Ada dukungan.

Dan ada penerimaan.

Lisna tersenyum.

Ia tahu, ia tidak berjalan sendirian.

Sejak saat itu, langkahnya terasa lebih ringan.

Bukan karena jalurnya berubah.

Tapi karena hatinya tidak lagi membawa beban.

Hari-hari kembali berjalan seperti biasa.

Namun kini, ada sesuatu yang berbeda.

Lisna tidak lagi merasa hidupnya hanya berputar di rutinitas.

Ia punya sesuatu yang ia tunggu.

Sesuatu yang membuatnya semangat.

Sesuatu yang membuatnya merasa… hidup.

Dan itu adalah perjalanan berikutnya.

Daftar tempat yang ingin ia datangi perlahan mulai terbentuk.

Bukan daftar yang panjang.

Tapi cukup untuk membuat hatinya terus bergerak.

Salah satunya… Gunung Mega.

Nama itu sudah lama ia dengar.

Bukan gunung yang paling populer.

Bukan juga yang paling mudah.

Tapi justru itu yang membuatnya menarik.

Ada rasa penasaran.

Ada rasa ingin mencoba.

“Suatu hari nanti… ke sana,” katanya pelan dalam hati.

Ia tidak terburu-buru.

Ia tidak ingin menjadikan semua ini sebagai perlombaan.

Baginya, mendaki bukan tentang menaklukkan gunung.

Tapi tentang memahami diri sendiri.

Setiap jalur yang ia lewati selalu mengajarkannya sesuatu.

Tentang sabar.
Tentang batas diri.
Tentang bagaimana menerima bahwa tidak semua hal harus dipaksakan.

Ia belajar bahwa berhenti bukan berarti gagal.

Dan berjalan pelan bukan berarti tertinggal.

Yang penting… tetap melangkah.

Di suatu sore, seperti biasa, Lisna kembali duduk di teras rumahnya.

Langit kembali menunjukkan warna jingga yang sama seperti hari-hari sebelumnya.

Namun perasaannya berbeda.

Ia tidak lagi hanya mengingat masa lalu.

Ia juga memikirkan masa depan.

Bukan dengan cemas.

Tapi dengan tenang.

Ia menatap ke depan.

Tidak ada gunung di sana.

Tidak ada jalur pendakian.

Namun ia tahu, di dalam dirinya, perjalanan itu masih ada.

Dan akan terus ada.

Ia tersenyum.

Pelan.

Dalam.

Karena ia sadar satu hal—

Usia memang terus bertambah.

Tubuh mungkin tidak sekuat dulu.

Langkah mungkin tidak secepat dulu.

Namun semangat…

Tidak pernah benar-benar menua.

Selama hati masih ingin berjalan, selama jiwa masih ingin merasakan, maka tidak ada alasan untuk berhenti.

Hidup bukan tentang seberapa lama kita bertahan.

Tapi tentang bagaimana kita menjalaninya.

Apakah dengan takut…
Atau dengan berani.

Lisna memilih yang kedua.

Ia memilih untuk tetap melangkah.

Meski pelan.

Meski kadang lelah.

Meski tidak selalu mudah.

Karena ia tahu, di setiap langkah itu, ada sesuatu yang ia temukan.

Bukan hanya pemandangan.

Bukan hanya pengalaman.

Tapi dirinya sendiri.

Ia berdiri dari kursinya.

Menatap langit untuk terakhir kalinya sore itu.

Lalu masuk ke dalam rumah.

Besok mungkin ia tidak mendaki.

Mungkin ia hanya menjalani hari seperti biasa.

Namun di dalam dirinya, langkah itu tidak pernah berhenti.

Karena ia tahu—

Perjalanan ini belum selesai.

Dan mungkin… tidak akan pernah benar-benar selesai.

Selama ia masih ingin melangkah.

Selama hatinya masih terpanggil.

Maka akan selalu ada jalan.

Akan selalu ada gunung.

Akan selalu ada alasan… untuk kembali berjalan.

Dan di situlah, ia menemukan arti yang sebenarnya—

Bahwa hidup bukan tentang usia.

Tapi tentang keberanian untuk tetap melangkah,
meski waktu terus berjalan.

Posting Komentar

0 Komentar