Mamah memutuskan kembali ke kampung halaman. Aku pun ikut, meninggalkan tempat yang sebenarnya adalah kota kelahiranku, namun terasa asing karena sejak kecil aku lebih banyak hidup merantau bersama orang tua. Di kampung, aku kembali dekat dengan saudara-saudaraku yang sebelumnya tinggal bersama kakek dan nenek.
Aku adalah anak bungsu dari enam bersaudara. Setelah lulus dari MTs, tibalah saatnya menentukan langkah berikutnya. Kakak-kakakku, dengan penuh perhatian, memberikan berbagai saran.
Ada yang menyarankan agar aku melanjutkan ke sekolah negeri karena nilai pelajaran umumku cukup baik. Ada pula yang mendorongku untuk mencoba menjadi perawat—sebuah profesi yang dianggap menjanjikan dan mulia.
Sebagian besar kakakku adalah lulusan PPI 1. Namun karena sekolah itu berada di kota, mereka merasa ragu melepas aku ke sana. Mereka khawatir, mengingat aku belum benar-benar mengenal kehidupan kota. Meskipun itu adalah tempat kelahiranku, bagiku kota tetap terasa asing.
Akhirnya, setelah melalui banyak pertimbangan, kami sepakat memilih MA Al-Huda sebagai tempat aku melanjutkan pendidikan.
Tak ada yang menyangka, keputusan sederhana itu ternyata menjadi salah satu titik penting dalam hidupku. Di sanalah, aku dipertemukan dengan seseorang yang kelak menjadi pendamping hidupku—suamiku.
Terkadang, jalan yang kita pilih bukanlah yang paling terlihat hebat di awal. Namun justru di situlah Allah menyimpan kejutan terbaik. Dari kehilangan, aku belajar tentang kekuatan. Dari kepindahan, aku belajar beradaptasi. Dan dari pilihan sederhana itu, aku menemukan takdir yang indah.

0 Komentar