Penulis : Rika Fitria Hasanah
Tidak ada yang benar-benar kembali seperti semula.
Luka itu masih ada.
Kadang terasa… kadang hanya diam di dalam.
Aisyah masih mengingat semuanya.
Tentang kata-kata yang melukai.
Tentang kepercayaan yang pernah runtuh.
Tentang malam-malam panjang yang ia lewati sendirian.
Dan suaminya… juga tidak langsung berubah menjadi sempurna.
Ia masih belajar.
Masih jatuh di hal-hal kecil.
Masih mencoba memahami sesuatu yang dulu ia abaikan.
Namun kali ini… mereka tidak lagi menuntut hasil yang cepat.
Mereka belajar satu hal yang sama:
sembuh itu butuh waktu.
Ada hari di mana Aisyah kembali teringat… lalu hatinya sesak.
Ada hari di mana ia ingin marah lagi… ingin mengungkit lagi.
Tapi kali ini, ia tidak menahan dengan cara diam.
Ia bicara.
Pelan. Jujur. Tanpa menyakiti.
Dan suaminya… belajar untuk tidak membela diri.
Hanya mendengar.
Mereka tidak lagi berusaha menjadi pasangan yang “sempurna”.
Mereka hanya berusaha… tidak saling melukai lagi.
Suatu malam, mereka duduk berdua.
Tidak ada topik besar.
Tidak ada masalah yang dibahas.
Hanya diam… yang kali ini terasa lebih tenang.
“Aisyah…” suara suaminya pelan,
“kenapa kamu masih bertahan?”
Aisyah tersenyum tipis.
“Karena aku tahu… kesempatan untuk berbuat buruk itu selalu ada.”
Suaminya menunduk.
“Aku juga punya kesempatan itu,” lanjut Aisyah,
“bahkan setelah apa yang kamu lakukan.”
Ia menoleh.
“Tapi itu pilihan.”
Sunyi.
Angin malam berhembus pelan.
“Aku tidak bertahan karena semuanya sudah baik,” kata Aisyah,
“tapi karena aku ingin memilih yang baik.”
Air matanya jatuh… bukan karena sedih.
Tapi karena lega.
“Dan aku tidak bisa sendiri,” lanjutnya lirih,
“aku butuh kamu juga memilih yang sama.”
Suaminya mengangguk.
Pelan… tapi pasti.
Waktu berjalan.
Tidak cepat.
Tidak instan.
Namun perlahan… ada yang tumbuh kembali.
Bukan cinta yang dulu.
Tapi cinta yang lebih sadar.
Lebih hati-hati.
Lebih dijaga.
Aisyah kini mengerti…
Menjadi “rusuk” bukan berarti harus selalu kuat tanpa rasa sakit.
Ia boleh lelah.
Ia boleh terluka.
Tapi ia juga punya pilihan—
untuk tidak menjadi sesuatu yang merusak dirinya sendiri.
Dan suaminya pun akhirnya mengerti…
Bahwa menjaga… jauh lebih sulit daripada memiliki.
Masalah… tidak pernah benar-benar berhenti.
Ia akan datang… silih berganti menghampiri.
Dengan bentuk yang berbeda.
Dengan rasa yang kadang lebih berat.
Namun Aisyah belajar satu hal yang tidak pernah ia sadari sebelumnya—
bahwa di setiap sempitnya jalan,
selalu ada celah yang Allah bukakan.
Di setiap lelah yang terasa panjang,
selalu ada kekuatan yang Allah titipkan.
Dan di setiap titik terendah…
selalu ada pertolongan yang datang, meski perlahan.
Ia tersenyum, menatap langit malam.
“Bukankah aku sampai di titik ini… juga karena pertolongan-Mu, ya Allah…”
Penutup:
Sembuh memang butuh waktu.
Dan kesempatan untuk berbuat buruk… akan selalu ada.
Tapi hidup bukan tentang apa yang bisa kita lakukan—
melainkan apa yang kita pilih untuk tidak lakukan.
Masalah akan terus datang silih berganti.
Namun jalan keluar… selalu Allah sertakan bagi yang bersabar.
Karena pada akhirnya…
bukan luka yang menentukan siapa kita,
tapi pilihan kita setelah terluka.
Dan di antara semua pilihan itu…
syukur dan sabar… adalah yang paling menguatkan.

0 Komentar