Mengapa Allah Tidak Menghukumku Sekarang, Padahal Aku Layak?



Ditulis oleh : 
Arinal Haqqa
(Putri dari Ust.Yayan Haryana & Rika)  

Sore itu, langit kampus mulai berubah jingga. Cahaya matahari masuk lewat jendela besar perpustakaan fakultas, memantul samar di meja kayu yang dipenuhi buku dan laptop yang belum dimatikan.

Suasana lantai tiga cukup sepi. Hanya terdengar suara pendingin ruangan dan sesekali langkah kaki mahasiswa yang berlalu.

Una duduk sambil memutar gelas minumannya pelan. Dari tadi ia terlihat gelisah. Jemarinya saling menggenggam erat di atas meja, seakan ada sesuatu yang sejak lama ingin ia keluarkan, tetapi terlalu takut untuk diucapkan.

Di depannya, Hani memperhatikan wajah sahabatnya dengan tenang.

“Hani…” suara Una kecil. “Aku mau curhat…”

Hani mengangguk pelan, ia akan mendengarkan. 

Una menunduk. “Aku ngerasa kalau aku ini pendosa.”

Kalimat itu keluar begitu saja, namun terasa berat.

“Bukan sekali dua kali aku salah,” lanjutnya lirih. “Aku tau mana yang bener. Tapi… tetep aja aku ngelanggar.”

Ia tertawa kecil, hambar.

“Aku bingung banget kenapa Allah gak hukum aku sekarang, padahal bukannya aku layak… dihukum sekarang?”

Hani mengernyit sedikit. “Layak?”

“Iya…” Una menarik napas panjang. “Soalnya aku sering lalai, sering mengabaikan perintah Allah. Bahkan kadang sadar… tapi tetep milih salah.” Matanya menatap keluar jendela kampus yang mulai redup.

“Kenapa ya aku masih dikasih hidup yang normal? Masih bisa ketawa… bernapas… kayak gak akan terjadi apa-apa gitu.”

Hani terdiam beberapa detik sebelum akhirnya bertanya pelan,

“Jadi menurut kamu, setiap kesalahan harus langsung dibales sama hukuman?”

Una menoleh pelan. “Kan adil gak sih? Harusnya gitu, kan?”

Hani tersenyum tipis. Bukan senyum mengejek, melainkan senyum seseorang yang memahami isi hati seseorang didepannya.

“Kalau semua kesalahan langsung dibales hukuman saat itu juga…” ucapnya pelan, “gak ada satupun dari kita yang masih bertahan, Una.”

Una terdiam.

“Allah itu Maha Adil, kamu bener,” lanjut Hani. “Tapi Allah juga Maha Penyayang… dan Maha Pengampun.”

Angin sore bergerak lembut dari jendela yang sedikit terbuka.

“Sering kali yang kita kira ‘tidak dihukum’ itu…” Hani menatap Una lembut, “sebenarnya adalah bentuk penangguhan, bukan pengabaian.”

“Penangguhan?” Una mengulang pelan. “Maksudnya?”

“Allah beri kita waktu.” Hani menyandarkan punggungnya ke kursi. “Bukan karena Dia gak mampu menghukum kamu, tapi karena Dia ngebuka kesempatan untuk kita kembali pada-Nya.”

Tatapan Una perlahan berubah. Tidak lagi sepenuhnya kacau, meski masih dipenuhi keraguan.

“Jadi… semua ini bukan berarti Allah ngebiarin aku?”

“Bukan, Na.” Hani menggeleng pelan. “Justru itu tanda bahwa Allah masih memberimu ruang untuk berubah.”

Hening sesaat menyelimuti mereka.

Kemudian Hani membuka ponselnya sebentar, sebelum berkata pelan,

“Dalam surah Al-Kahfi ayat 58, Allah berfirman… ‘Dan Tuhanmu Maha Pengampun, memiliki rahmat. Jika Dia menghukum mereka karena apa yang mereka kerjakan, niscaya Dia akan menyegerakan azab bagi mereka.’" Suaranya lembut, hampir seperti bisikan.

“Kalau Allah ingin menghukum seketika, Dia mampu kok,” lanjut Hani. “Cuma… Dia milih buat nunda. Karena rahmat-Nya lebih luas dari murka-Nya.”

Una menunduk dalam.

“Jadi aku ini hidup dalam rahmat yang gak aku sadari sama sekali…”

“Iya.” Hani tersenyum kecil. “Setiap napas yang masih kamu hirup, setiap kesempatan yang masih kamu punya… itu bukan karena kamu pantas, tapi karena Allah belum nyerah sama kamu.”

Entah kenapa, kalimat itu membuat dada Una terasa sesak sekaligus hangat.

“Tapi…” suaranya mengecil, “aku takut.”

Hani menatapnya lagi.

“Takut kalau semua ini cuma ditunda… dan suatu saat aku harus nanggung semuanya.”

“Rasa takut kamu itu penting,” jawab Hani lembut. “Tapi jangan berhenti di takut.”

Una perlahan mengangkat kepala.

“Takut itu harus membawa kamu pulang… bukan membuat kamu putus asa.”

Suasana di luar semakin sore. Beberapa lampu kampus mulai menyala satu per satu.

“Yang berbahaya bukan pendosa yang sadar, loh…” lanjut Hani pelan. “Yang berbahaya itu yang merasa aman dalam dosanya.”

Una menggigit bibir bawahnya pelan.

“Jadi… rasa bersalah ini bukan tanda aku buruk sepenuhnya?”

Hani menggeleng.

“Justru sebaliknya.” Suaranya tenang.

“Itu tanda hatimu masih hidup.”

Untuk pertama kalinya sejak tadi, mata Una terlihat sedikit lebih lega.

“Kalau gitu…” ia tersenyum kecil, meski matanya mulai berkaca-kaca. “Mungkin Allah tidak menghukum aku sekarang bukan karena aku lolos, ya?”

Una menoleh, menatap Hani. 

“Tapi karena Dia masih ngasih aku kesempatan?”

“Bukan cuma kesempatan,” jawab Hani lembut. “Allah sedang memanggilmu… dengan cara yang lembut.”

Una menunduk lagi sambil tersenyum tipis. Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang selama ini ingin ia dengar.

“Kalau gitu…” katanya pelan, “aku gak mau nunggu sampai bener-bener dihukum buat berubah.”

Ia menarik napas panjang.

“Walaupun aku belum sempurna… aku mau nyoba kembali.”

Senyum Hani menghangat.

“Itu cukup. Bahkan lebih dari cukup.”

Una menatap pelan Hani kembali

“Karena Allah gak nunggu kamu *sempurna*,” lanjut Hani, *“Allah nunggu kamu jujur buat kembali.”*

... 

╰┈➤ *Tidak di hukumnya seseorang bukan berarti ia terbebas dari kesalahan. Melainkan bisa jadi itu adalah bentuk kasih sayang Allah yang memberi waktu untuk berubah. Setiap kesempatan yang masih ada adalah bukti bahwa Allah belum menutup pintu hati-Nya. Dan rasa bersalah yang kita rasakan... bukanlah tanda kebinasaan, melainkan undangan untuk pulang. Bukan karena kita pantas dimaafkan, tetapi karena Allah begitu luas dalam mengampuni.* ⋆·˚ ༘—By Ar¡n.

Posting Komentar

0 Komentar